SEBUAH SURAT, DARI SEORANG USTADZ UNTUK USTADZ ABDUL SHOMAD KARENA UMAT

Assalamualaikum
Kepada YTH Abangku
Ustadz Abdus Shomad, Lc. MA.
Hafidzokumullah ...

KAGET, keseimbangan yang pertama kali terlintas di pikiran saya, pada saat mendengarkan hasil musyawarah Ijtima Ulama yang memesan antum (Anda) untuk menjadi Cawapres. Entahlah, antara percaya dan tidak, akhirnya para Ulama berikhtiar dengan menghadirkan “kejutan” dalam memilih antum dan Habib Salim sebagai Cawapres padahal ada nama yang nyata lebih tinggi dan berambisi untuk membuat kedudukan tersebut. Percayalah Ustadz!, Di tengah kegalauanan, kamu yakin untuk mengambil keputusan politik yang bersifat sesaat, bagi saya, ini adalah untuk pertama kalinya Ulama dan Umat sangat penting untuk mereka, SUNGGUH adalah efek awal dari gejala kebangkitan orang. amin
SEBUAH SURAT, DARI SEORANG USTADZ UNTUK USTADZ ABDUL SHOMAD KARENA UMAT
Subhanallah, belum pernah saya singgung dari rasa kaget tersebut, melalui beberapa media sosial yang ada. Antum lebih berkeinginan menjadi ulama sampai mati. Ups ..., Perasaan saya saat itu sejujurnya kecewa tapi di antara ribuan kekecewaan itu sungguh terselipmentasi rasa BANGGA pada sikap antum yang menurut saya cukup "unik dan antik". Dengan ringan antum (dalam wawancara singkat di TVone) menjawab pertanyaan Wartawan dengan penggalan kalimat “ada yang lebih baik dari saya”.
Hmmm ... apakah ini arti penolakan? Beberapa media langsung menyimpulkan bahwa benar-benar menolak rekomendasi ulama, tapi alhamdulillah tadzits saya bodoh dalam agama ..., banyak yang bisa memahami bahwa ini tidak pernah tercipta, yang juga pernah terukir dalam tinta emas sejarah Islam di masa kekhilafahan Abu Bakar Assiddiq RA
Dalam sambutan kepresidenannya paska dibaiat oleh para sahabat lainnya, beliau berkata

أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم
"Amma ba'du, wahai sekalian manusia, benar-benar aku telah diangkat sebagai pemimpinmu pada saat yang sama".

Ustadz Somad Hafidzokumullah ...
Afwan (maaf) ustadzihat ...
Abu Bakar merendah tapi tidak menolak, Walaupun beliau juga berkeyakinan bahwa masih banyak yang lebih baik dari beliau tapi beliau berupaya memahami permintaan umat, so beliau mencoba mengalah demi kemaslahatan yang lebih rojihah (Dominan)

Entah mengapa, dengan penolakan antum itu justru membuat saya semakin berhasrat untuk mendukung antum masuk dalam dunia perpolitikan. Di tengah carut marutnya keadaan berbangsa kita, mudah2an dan semoga Allah MENGAMPUNI DOSA SAYA jika ini salah, antum adalah salah satu “HADIAH” yang Allah kirim untuk bangsa tercinta ini.

DEMI ALLAH ...
Saya Agus Khoirul Huda, bukan bagian dari tokoh/organisasi politik mana pun, saya tidak memiliki kepentingan apa pun, dan biarlah Allah yang menjadi saksi atas isi hati saya, saya cuman hanya guru ngaji alif ba ta' di kampung, saya hanya ingin berbicara dari hati yang terdalam, agar tak jadi beban yang meredam , dengan segala hormat ...
Saya memohon antum untuk minimal berkenan MENGIYAKAN keinginan umat Ustadz... bukan buat antum atau buat saya, tapi untuk umat yang merindukan perubahan, hingga kami mampu berkata
إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ
“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. al-Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733

Ala Ro'si Wa Uyuni, Roja'an ya Sayyidi penuhi keinginan umat ini, karena beberapa alasan ;

1. Antum Selalu Dicurigai Anti Pacasila

Yaaahhh antum..
“Ustadz Somad sangat anti Pancasila” itu tuduhan mereka, orang-orang intoleran yang gagal paham. Mereka yang menuduh antum dengan kata kata intoleran, sebenarnya justru merekalah yang tidak memahami perbedaan, PANCASILA adalah produk hasil ijtihad pendiri negara yang tidak dapat dipungkiri salah satu hasil karya  ulama. Pancasila jika ditafsirkan oleh orang orang ini, malah mengkhianati dogma Pancasila itu sendiri. Pancasila ala mereka hanya dijadikan sebagai alat atau tameng untuk melegalitaskan perilaku mereka yang menyimpang, seperti kaum Islam Liberal. Di balik jargon Pancasila versi mereka, mereka selalu meneriakkan kebebasan berekspresi, tanpa memperhatikan butir Pancasila ke 1 yang meletakkan bahwa bangsa ini di bangun di atas ketuhanan yang maha esa. Mereka lupa bahwa dasar ketuhanan yang maha esa telah merasuki sendi-sendi bernegara, yang diletakkan di atas tetes darah perjuangan pendiri bangsa yang suka tidak suka, diakui atau tidak MEMANG didominasi oleh kaum Muslim dan ulama di bawah pekikan takbir yang membahana.
Di saat mereka mengaku paling Pancasilais, mereka justru yang memakan uang rakyat, melakukan korupsi, penjualan aset negara dan tindakan berkhianat yang melukai perasaan rakyat
Di saat itu pula Antum yang di tuduh anti Pancasila malah disibukkan dengan keluar masuk ke pedalaman Sumatra dengan menggunakan perahu kecil, untuk mengibarkan bendera bersama anak-anak suku pedalaman dan mengajarkan arti cinta yang sebenarnya terhadap Pancasila

2. Antum Rendah di Hadapan Manusia

Antum rendah di hadapan manusia ustadz, tapi antum tinggi (Insyaàllah) di hadapan Allah. Antum memiliki jiwa yang sangat tawadlu, sebagai dai kondang antum tidak terikat dengan keglamoran yang menjajah gaya hidup antum. Di tengah ketenaran antum, bahkan antum masih sempat mengajarkan kami untuk bagaimana cara menghormati ulama tanpa kesombongan, merasa benar sendiri, tak pandang bulu apa madzhab dan aliran mereka. Gaya berpakaian antum menggambarkan kesederhanaan yang membuat antum semakin mempesona.
Saya memperhatikan antum bersama ustadz-ustadz moderat (tawassuth) lainnya berhasil mempersatukan umat, dengan jargon ukhuwah, sebuah konsep Islam moderat yang ketepatan saya anut dan saya yakini di tengah keterpurukan persatuan Umat. Betapa bahagianya ketika kelak kita menyaksikan persatuan itu benar-benar terjadi pada generasi anak-anak kita, TENTU bukan khayalan, di saat sahabat-sahabat kita dari NU, Muhammadiyah, Jamaah tabligh, al ikhwan, Persis Dll bersatu dalam ikatan cinta, Ahhh SUNGGUH cuta-cita yang membuat air mata saya menetes jika memang persatuan itu benar2 ada. Allah humma ya Robb ...

3. Antum Ustadz yang Paling Dibenci

Setahu saya, antum adalah Ustadz yang paling  di benci, ke mana antum datang, antum selalu disambut dengan penolakan-penolakan dari masyarakat. Antum memang dibenci, yah ... di benci oleh kelompok minoritas, yang memiliki misi kerdil, entah mereka tidak paham dengan pemahaman antum, atau mereka paham namun kepentingan dunia membuat mereka menutup mata dari kebenaran. Setiap penolakan dari mereka yang mereka gembor-gemborkan di sosial media, Akhirnya ... terluluhlantahkan oleh kecintaan kaum mayoritas dengan membludaknya jamàah antum pada saat tabligh akbar di mana2.
Kebencian dan hinaan yang antum dapatkan dengan berita hoax, video editan, plesetan UAS (Ustadz Ahli Syubhat) dan fitnah bahwa antum anti NKRI, WOW justru membuat antum sungguh adalah SESUATU di mata kami.

4. Antum Belum Berpengalaman Politik

Antum memang belum pernah terjun dalam dunia politik yang kotor, justru itu membuat kami yakin antum bisa menjadi uswatun hasanah bagi para politikus, bagaimana menjadi politikus yang bersih, bukankah ini yang disebut sebagai dakwah bil hal ustadz ?
Jika ada yg meragukan kapasitas antum dalam mengatur negara, bukankah itu juga seperti ketakutan seorang tokoh  terhadap lawan politiknya, tapi faktanya ia kini justru menjadi wakil dari tokoh politik yang ia takutkan itu. Ayolah Ustadz, semua belajar dari yang masa, DAN Biarlah waktu akan yang akan menjawab...

5. Antum Belum Tentu Disetujui Oleh Partai Koalisi

Tapi .... tahukah Anda Ustadz? Justru ini yang membuat saya senang, karena dengan itu akan terlihat hakikat partai Koalisi yang selama ini menjunjung tinggi kalimat cinta Ulama dan Umat. Yah,,, bukankah ini ujian yang sebenarnya buat mereka?. Apa kah mereka hanya mengejar jabatan, atau mendahului kepentingan umat dari syahwat politik belaka?
TAPI, Saya yakin Haqqul Yakin itu bukan karakter partai Koalisi yang selama ini mendukung pergerakan Islam ustadz. Mereka adalah orang2 yang baik.
Lantas mengapa antum harus hadir? Karena Kepentingan politik harus di sterilkan dengan kelembutan ulama, masing2 partai pasti punya kepentingan, PAN pasti berharap pada pak Zulkifli Hasan itu tidak salah ... sebagai ketua MPR beliau adalah negarawan yang handal. PKS pasti memiliki keinginan untuk memajukan Habib Salim Seggaf Al-Jufri  itu juga tidak salah ... sebagai ulama beliau tentu memiliki kapasitas Ilmu yang luar biasa. Bisa jadi Demokrat memiliki keinginan untuk mengajukan AHY, itu tentunya juga tidak salah, beliau adalah seorang pemuda yang bersih, cinta NKRI dan berintelektual.
Yang salah adalah pada saat kita belum menemukan format yang ideal untuk menggabungkan ke tiga keinginan di atas. Agak susah memang Partai2 di atas untuk saling mengalah, karena ketiga partai di atas punya pengorbanan yang berbeda2. Tp antum ... ya antum ustadz ... akan menjadi penghubung di antara tiga jurang ini, INSYA Allah.. dan ana yakin kepentingan2 sementara ini akan terbius untuk kepentingan umat yang jauh lebih penting, Allahuakbarrr ...

Hadis ini menjadi gambaran, mengapa bangsa kita selalu susah bangkit karena dari awal kepemimpinan adalah jabatan yang diincar, bukan amanah yang dipertanggung jawabkan

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allâh). Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allâh Azza wa Jalla) dalam melaksanakan jabatan itu.
Bukhari Muslim

Dan akhirnya
Tanpa berniat menggurui antum
Ilmu saya begitu terbatas, sedang ilmu antum begitu luas, hanya Allah yang mampu membaca kata hati yang terlintas,
Ini lah saatnya ustadz..
Ini lah waktunya ...
Mungkin antum sering mendengar  pepatah orang Arab
“Ahlamunal yaum haqiqotunal ghood”
Mimpi kita di hari ini, adalah kenyataan kita di hari esok

Dan percayalah ... antum adalah bagian penting dari mimpi itu ...
Kami dan umat Ikhlas menghibahkan antum untuk negara tercinta ini ...
Ana tau dan yakin semua semua ini adalah pengorbanan dan perjuangan
DEMI TUHAN PEMILIK KABAH
Inilah saatnya antum membuktikan ceramah antum yang pernah kami  dengar
“maka, kalau ada ulama orang yang paham agama, orang yang taat beragama ... berikan sepenggal kekuasaan di tangannya. Dia akan tolong agama Allah”

Kami siap memberikan sepenggal kekuasaan di tanganmu tuan guru Abdus Somad

Ya Allah saksikanlah, saya telah menyampaikan amanah ini kepada Ustadz Abdus Shomad
Dan kamu adalah sebaik-sempurna saksi wahai Robb semesta alam.

SADARILAH USTADZ ..

Keputusan ada di tangan antum, keinginan ada di tangan kami. Sedang Allah yang menentukan apa yang ia kehendaki. Semoga Allah selalu mendukung jalan hidup antum. Amin Ya Mujibas Saailin

Balikpapan, 6 Agustus 2018

Akhukum Fillah
Agus Khoirul Huda, Lc *
Pengasuh Pesantren IQ (IBNUL KARIM QUALITA)

IG @ aguskhoirulhuda1
     @ majelis.iq

* Alumni Al Ahgaff University - Yaman

NB Buat Sahabat2 yang menyenangkan sependapat Suka N Share seluas-luasnya .. Semoga surat ini terbaca oleh beliau. Amin

Comments

Popular posts from this blog

Rezim Tidak mau dipeluk, ya digebuk!!

TENGKU MUZAKKIR MANAF Bicara Tentang Prabowo Subianto